Feeds:
Posts
Comments
Processed with VSCO

Hello, Salzburg!

Tuesday, 22nd May 2018

SALZBURG oh SALZBURG!!! Kota impian saya sedari kecil.. ini salah satu wishlist kota yang mesti saya kunjungi before I die.. dan akhirnya kesampaian.. Puji Tuhan, thanks Jesus! Salzburg ini cantiiiikkkk sekaliiii.. sejauh mata memandang kita bakal disuguhi pemandangan alam pegunungan yang luar biasaaaaa..

Kami menuju Salzburg dari Vienna by train seharga EUR 39.98 for 2 persons. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 1 jam.. Sejam kemudian kami tiba di Salburg Hbf.. Ini stasiun kereta nya cakeuuupp banget yaaak.. Terus ada semacam minimarket SPAR, trus saya mampir deh cuma pengen beli minum… Tapiiii ternyata malah kalap sama pilihan coklat nyaa disana banyak bangetttt dan murah-muraaah…

20180522_104409

Ini asliiii enak bangettt! Coklat strawberry segeeerrr!

20180522_183703.jpg

Sampe rasa Spaghetti-Eis pun ada.. ntah gimana rasanya..

20180522_183941

Kalap belanja coklaaattttt!

Puas belanja, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat penginapan kami di Hotel Modus.. Letaknya cukup strategis, kurang lebih 1km berjalan kaki dari Salzburg Hbf. Selain itu, hotel ini juga dekat dengan Mirabell Garden, cukup jalan kaki sejauh 600m.. Old town juga deket kok, jalan kaki 10 menit sampai deh.. Maklum turis budgeted, jadinya kemana-mana kudu jalan kaki..  Karena tiba disana masih sekitar jam 10 pagi, jadi kami gambling aja langsung ke hotel.. Kalau udah bisa early check in yaa syukur, kalo belom ya minimal bisa numpang taro koper dan melanjutkan itinerary hari ini yaituuuuuu ikutan tour “The Sound of Music” …

~The Sound of Music Tour~

Setelah googling kesana kemari, akhirnya saya putuskan untuk memilih The Sound of Music Tour by Panorama Tours . Tour dimulai jam 2 siang, jadi kami masih punya waktu untuk berkeliling Mirabell Garden, sebelum nantinya berkumpul di meeting point Mirabellplatz bus terminal. Kalau sudah pernah nonton TSOM, pasti ga asing lagi deh dengan scene Mirabell Garden, tempat si Von Trapp family nyanyi Do-re-mi..

Processed with VSCO

Mirabell Garden

Puas keliling Mirabell Garden sambil nyanyi-nyanyi theme song yang ada di TSOM, kami bergegas menuju ke Mirabellplatz untuk mengikuti tour TSOM. Tour ini naik bus khusus dan akan didampingi satu tour guide.

20180522_132312

Let’s goooo!

Kami mendapatkan tour guide yang sudah cukup senior, namanya Barbara.. Walaupun sudah berumur, tapi Madam Barbara ini masih cukup enerjiiik loh.. Untuk menuju puncak Mondsee, saya naik kereta wisata (EUR 3,00/person), sedangkan si Madam Barbara jalan kaki dong.. hebatttt! Tau gitu kan saya jalan kaki aja yaaa.. Lumayan kan bisa hemat EUR 6,00 untuk berdua..

Processed with VSCO

Me and Barbara at Mondsee – Salzburg

Rute tour ini adalah mengunjungi tempat-tempat yang pernah dijadikan lokasi syuting dari film TSOM, diantaranya Leopoldskron Palace, Gazebo Hellbrun Palace, Nonnberg Abbey, Salzburg Lake District Area – St. Gilgen, dan Mondsee – Wedding Chapel.

Processed with VSCO

Our first stop, Leopoldskron Palace

Destinasi berikutnya setelah dari Leopoldskron Palace yaitu ke Gazebo tempat scene fenomenal nya si Liesl nyanyi 16 going on 17.. Saya pun ga mau ketinggalan ikutan nyanyiii.. hohoooo.. menyenangkan sekali tour ini.. Selesai keliling-keliling Gazebo, kita diajak menujuk Nonnberg Abbey, tempat scene dimana Maria von Trapp masih jadi biarawati sebelum kenal dengan Von Trapp family..

Untuk mengikuti tour ini, biaya nya adalah EUR 45,00/person. Saya sudah membeli tiket nya via online waktu masih di Indonesia. Jadi disana tinggal menukarkan tiket saja, dan pasti sudah kebagian seat. 🙂

Waktu di Mondsee, saya juga sempat mencicipi Cheese Cake ala Mondsee di salah satu Cafe. Tapi jujur sih, rasanya kurang “nendang”, teksturnya cenderung keras ketimbang lembut.. Untuk satu slice Cheese Cake, saya harus merogoh kocek sebesar EUR 3,90 😛

20180522_134034

Tour yang berdurasi kurang lebih 5 jam itu akhirnya selesai.. Saya puaaaaaaassss sekali.. Ga nyesel sama sekali deh ikutan tour ini.. Sepanjang perjalanan walau sempat hujan turun, tetap tidak mengurangi pemandangan yang memanjakan mata.. Selesai tour, saya kembali lagi ke penginapan, untuk beristirahat sebentar, ganti baju, dan kemudian melanjutkan perjalanan kembali untuk cari dinner.. Laperr bok!

Setelah muter-muter Salzburg, akhirnya memutuskan untuk having dinner di salah satu Cafe, Gabler Brau, Salzburg.. Romantic place dengan Alpen Mountain as back view nya.. Disitu saya pesan soup as appetizer and steak as my main course.. Minum nya hot tea aja, soalnya angin nya dingiiinn sepoi-sepoi.. Uniknya lagi, disitu disediain selimut.. Jadilah saya selimutan juga biar ga masuk angin.. hehehe..

20180522_210413

Selesai makan, perut sudah kenyang, dan gak tahan karena semakin malam angin semakin dingin, serta perjalanan balik ke hotel masih lumayan jauh, sedangkan kaki udah lemessss banget seharian jalan, akhirnya kami memutuskan langsung balik ke hotel aja, ga pake mampir-mampir lagi.. hehee..

So. that’s all our second day at Salzburg.. Besok pagi-pagi, kita akan melanjutkan perjalanan ngebolang ini menuju Hallstatt.. See ya on our next stories.. ❤

Cheers,

~Regina Desi~

 

Advertisements
Processed with VSCO

Hello, Vienna!

Bermula saat si airlines impian “Thai Airways” membuka rute baru ke Vienna di akhir 2017 yang lalu dengan memberikan harga promo. Tak disangka rute baru itu kebetulan sekali adalah rute impian saya, yaitu Vienna / Wina, seharga 7,5jt/pp/orang/nett, sudah termasuk meals dan bagasi.. Yeaaay.. Tiket sudah dibeli dari bulan Okt 2017, dan keberangkatan di bulan Mei 2018..

Nah, gimana untuk urusan Visa? Untuk mendapatkan visa kami apply sendiri tanpa melalui calo. Karena rute kami adalah masuk dari Vienna dan keluar dari Roma, dan setelah dihitung, staying duration kami lebih lama di Austria, maka kami memutuskan untuk apply Schengen Visa via Kedutaan Austria (Austria yaa, bukan Australia.. bedaa atuuh!)

Proses pembuatan visa pun terbilang cukup mudah.. Ikuti saja semua prosedur nya dan lengkapi persyaratan nya, niscaya visa kamu approved.. *walau sempet deg-degan siiih.. Untuk details apply Schengen Visa via Austrian Embassy ini saya tulis terpisah yaa.. Sekarang saya mau ceritain dulu kisah ngebolang to Europe ini..

Here we go..

Sunday, 20th May 2018

Sebelum berangkat beberapa persiapan yang kami lengkapi adalah beli Sim Card Euro, seharga Rp 300.000 untuk 2GB, namun sayang nya tidak bisa dijadikan hotspot.. Jadilah karena si kangmas yang lebih perlu koneksi internet biar ga nyasar, saya ngalah dulu deh, ngarep dapet wi-fi gratisan aja nanti di public area..

Perjalanan menuju bandara kami naik taksi, jalanan cukup lancar, dan tak lama tibalah kami di Terminal 3 – Soekarno Hatta Airport. Di sini saya sempat beli souvenir pembatas buku di Batik Keris untuk oleh-oleh para host kita di AirBnb nanti.

Leg pertama yaitu Jakarta – Bangkok yang memakan waktu kurang lebih 3,5 jam, kemudian transit selama 3 jam, lalu dilanjutkan leg berikut nya yaitu Bangkok – Vienna selama kurang lebih 6 jam. 3 jam adalah waktu yang cukup untuk transit di Suvarnabhumi Airport. Tidak terlalu lama, tidak terlalu cepat. Bahkan saya sempat mencicipi mango sticky rice (it’s a must!).

Thai Airways ini airline impian saya.. kursi nya berwarna-warni menjadi daya tarik tersendiri (well, at least for me), dan kebetulan saya dapet kursi warna favorit saya.. pink fuschia.. hehe.. Seneenng banget..

20180520_184311

Flying with Thai Airways (Leg Jakarta – Bangkok) …

20180521_023321

In-flight meals

20180521_010242

Next leg, Bangkok – Vienna

20180520_194509

In-flight meals (dinner)

20180520_201414

Aimee, yang selalu ngikut kalo saya travelling kemana aja.. 😀

20180521_062946

Boeing 787 – Window shading

20180521_084911

In-flight meals (Breakfast)

Monday, 21st May 2018

Waktu menunjukkan pukul 01.20 dini hari. Kami siap melanjutkan leg berikutnya yaitu Bangkok – Vienna. Perjalanan ke Vienna memakan waktu kurang lebih 6 jam. Pukul 07.30 pagi, kami tiba di Vienna International Airport. Lanjut untuk immigration process + baggage collection.

Setelah selesai baggage collection, we found out kalau ternyata roda koper kita jebol.. hiiikssss.. harusnya sih kalau mau ngurus, kita bisa kok mengajukan claim ke AXA (travel insurance yang kita beli), tapi karena jadwal yang tight, dan koper nya masih bisa gerak roda nya, ya udah lah, kita lanjut aja untuk beli 24hours Vienna train ticket.. Ticket ini bisa dipakai dari Vienna Airport to Wien Mitte Station – Stephanplatz.. Yup, tujuan pertama kali adalah Stephanplatz, dan kebetulan AirBnB yang kita pilih berlokasi disitu.

Processed with VSCO

@back of the Stephansdom

Sebelumnya kami menitipkan koper kami di tempat penitipan koper di Wien Mitte Station.. Lokasi nya cukup “ngumpet” hingga bikin kami mondar-mandir, sampai akhirnya kami melihat ada sebuah pintu kecil yang mengarah ke lorong tempat penitipan koper. Ruangan nya tidak terlalu besar, dan kalau sudah siang sedikit bakalan penuh. Untung nya kami sampai di pagi hari, jadi masih banyak loker yang kosong. Harga sewa loker nya EUR 3.5 / loker / 6 jam, bisa diisi dengan 1 koper ukuran L + 1 koper cabin size + 1 backpack Anello saya.

Selesai urusan penitipan koper, kami keliling Stephanplatz dan mengunjungi St. Stephen’s Cathedral dan Katholische Kirche Domherrenhof. Capek berkeliling, saya mau mencicipi Sacher Torte nya Vienna yang terkenal itu di Aida Cafe.. Kami memesan Sacher Torte dan Hot Chocolate.. Total EUR 8 / porsi..

Processed with VSCO with  preset

Sacher Torte and Hot Chocolate – Aida Cafe, Vienna

Rasa Sacher Torte ini klasiiikkk sekaliii.. perpaduan choco and cake nya nge blend bangettt di mulut.. tapi jangan membayangkan kalau Sacher Torte ini adalah cake yang moist yaaa.. Cake nya cenderung bertekstur kasar.. Namun selai apricot sebagai filling nya memberikan kesegaran dan cita rasa yang unik.. Kalau sudah di Vienna, jangan sampai gak nyobain si Sacher Torte ini yaahh.. 🙂

Selesai menikmati Sacher Torte, kami menuju ke penginapan kami di daerah Opera, dengan rate EUR 45.10/malam.. Lokasi nya kami pilih yang strategis dan dekat dengan Stephanplatz, jadi bisa sekalian strolling around historic city centre nya Vienna, seperti Rathaus, Burgtheater, Votivkirche, Hofburg Palace, Vienna National Museum (Maria-Theresien Platz).

2018_0521_15113100

Brandstätte at the Stephansdom

Selesai c/i, kami istirahat sebentar, sebelum melanjutkan perjalanan untuk cari makan siang… Laperrr euy! Daaan pastinya MANDI! karena belum sempet mandi sehari semaleman.. hehehhee.. Selesai bersiap, kita mau lunch di Ribs of Vienna, resto yang punya andalan Pork Ribs sepanjang 1 meter.. Total makan+minum disitu habis EUR 25 for 2 persons..

2018_0521_19530400

Udah mandi, udah siap jalan-jalan lagi.. 😛

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan ke Rathaus (Town Hall) dan Hofburg Complex. Lokasi nya cukup berdekatan, jalan kaki ga berasa deh, tau-tau dah pegel ajaaa.. Cuaca dan suhu di Vienna lagi bersahabat sekali buat orang tropis macam saya.. Gak terlalu panas, tapi gak terlalu dingin.. Kalau mau main ke Vienna, pilihlah di bulan Mei.. dijamin enaak cuacanya..

2018_0521_20572200.jpg

@Rathauspark Vienna – banyak pohon mawar disiniii.. iyaa.. pohon.. dan bunga nya..

Processed with VSCO

@Alte Burg Place Hofburg

2018_0521_20165500

Hofburg Complex

Puas berkeliling dan udah capek, saya butuh rebahan bangetttt deh buat nyelonjorin kaki yang udah kebasss banget.. Jadilah kami balik ke penginapan, sambil nunggu janjian dinner alias buka puasa sama temen nya si kangmas.. Kebetulan kami pergi di bulan puasa, dan jam buka puasa di Vienna itu sekitar jam 9 malam.. Jadi lumayan lah masih ada waktu buat tiduuur..

Kangmas janjian ketemuan sama temennya di WienerWald Resto, tentu saja sajian khas nya yaitu Wiener Schnitzel.. Tapi kata temen nya si kangmas, rasa Wiener Schnitzel itu std bangettt, cuma ayam goreng tepung dikasih kentang goreng sama saos mayo.. udah gitu doang.. Jadilah kita direkomendasiin menu yang lain.. Gagal deh nyobain si Wiener Schnitzel khas nya Vienna.. hehehe.. Jadinya saya pesen soup sama steak aja (lupa namanya apa, yang pasti ribet lah..)

Processed with VSCO

Wienerwald Restaurant

Selesai makan, sempet jalan-jalan sebentar menikmati malam nya kota Vienna.. Tapi ga lama sih, soalnya besok pagi-pagi kami mesti check out untuk melanjutkan perjalanan ke SALZBURG, yeaaaaayyy!!

2018_0522_03154700

Udah jauh-jauh ke Vienna, masih ada aja temen nya si kangmas.. 😛

Kenyang makan, kami berkeliling sebentar menuju gedung Opera sekedar untuk berfoto aja.. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, kami harus kembali ke penginapan untuk istirahat, karena besok kereta kami pagi banget utk ke Salzburg..

Processed with VSCO

Well, thank you Vienna.. See you.. walau cuma sebentar tetapi sudah cukup memberikan gambaran seperti apa ibukota negara Austria ini.. Semoga bisa diberi kesempatan lagi untuk kembali ke kota klasik ini..

Cheers,

Regina Desi ❤

Let pictures tell them all.. 😀

img_20160712_094352

img_20160716_181326

img_20160810_122202

Kali ini saya akan berbagi pengalaman merasakan bertransformasi menjadi Maiko.

Apa itu Maiko? Maiko adalah calon geiko atau seniman perempuan yang mengabdikan hidupnya untuk kebudayaan Jepang dengan hidup melajang. Adapun Geiko adalah sebutan khas untuk para perempuan pengabdi kebudayaan asal Kyoto. Di luar Kyoto, mereka disebut dengan Geisha.

Setelah googling kesana kemari untuk mencari harga yang cocok di kantong dengan hasil memuaskan, akhirnya ketemulah sama Maiko Henshin Shiki Studio ini. Saya sempat lihat Dian Sastro, Andien, BCL foto disini dan hasilnya bagus baguuuss.. Tapi ada harga ada rupa yaa.. Harga aslinyaa muaahaaall bangeett.. Tapi pucuk dicinta ulam tiba, ternyata studio ini lagi bikin program campaign dalam rangka opening new shop mereka.. promo nya discount 50%! Wow, jadi berapa yen? nih, langsung aja mampir ke web mereka –> http://www.maiko-henshin.com

Begitu menginjakkan kaki di Kyoto, saya merasakan Japanese culture yang sangat kental.. Apalagi di daerah Ninenzaka, saya melihat banyak orang berseliweran memakai Kimono / Yukata. Tak sulit untuk menemukan Maiko Henshin Studio. Lokasi studio ini mudah ditemukan, di daerah Ninenzaka, dekat Kiyomizudera Temple.

Sebelumnya saya sudah melakukan reservasi via email. Dan begitu saya datang, saya langsung dilayani dan tidak perlu mengantri. Receptionist yang membantu kami bisa berbahasa english, namun tidak begitu lancar.. kebanyakan akhirnya pakai bahasa tubuh.. ahahha.. that’s why jadinya kita lama banget di meja receptionist.. Karena banyak sekali options yang harus kita pilih di awal, seperti pose apa yang kita inginkan, berapa kali pose, menggunakan full wig atau half wig, paket studio saja atau strolling plan, dll.

Karena saya berdua dengan kangmas, tadinya mau ambil Studio Plan untuk saya, dan Samurai Plan untuk kangmas; tapi ternyata mereka memiliki hidden plan ketika kami tiba disana. Mereka menawarkan kami Couple Plan, yang kalau dihitung ternyata lebih murah. Okelah, kita ambil Couple Plan, dapat 2 photo couple + 1 samurai + 1 maiko, jadi total dapat 4 pose; nah habis itu saya nambah lagi 2 pose @1,000 yen. Mumpung sudah disini, jadi tutup mata aja deh sama harganya.. Belum tentu dua kali lagi difoto beginian.. hehehe..

Jadi berikut paket yang saya ambil : Couple Plan (4 photos) + 2 additional photos for Maiko + Half Wig + tabi (kaus kaki) dan sudah mendapatkan soft file dalam bentuk CD-R, dan juga photo book. CD-R dan photo book nya langsung jadi dan bisa diambil begitu kita selesai melakukan pembayaran. Total payment saya 17,800 yen.

Begitu sudah deal, receptionist akan memberikan kita kunci locker dengan gantungan (biar ga ilang) dan juga keranjang yang berisi tabi, dan kimono tipis berwarna putih untuk dalaman. Kita dipersilahkan untuk melepaskan sepatu, dan berganti pakaian. Untuk make up dan hair do Maiko membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam. Untuk Samurai hanya perlu waktu 15 menit.. Ironis yaa perbedaan nyaa.. hahaha.. Jadi, kangmas boleh muter muter dulu 45 menit, nanti baru balik lagi ke Studio.

Selesai berganti pakaian, saya diantar menuju ruang rias. Nah, disini saya dirias pakai bedak tebal putih, blush pink, bibir merah tipis merona, eyeliner merah, dan alis coklat kemerahan. Selesai rias wajah, saya diantar menuju wig room. Saya mencoba wig sampai menemukan yang cocok dengan kontur kepala saya. Selesai pasang wig, saya diantar menuju ruang memilih Kimono. Ada banyak pilihan, mejikuhibiniu.. tapi saya udah ngincer Kimono ini, terinspirasi dari Andien, dan memang Kimono ini yang motifnya paling cantik menurut saya, warna nya pink pula. Kebetulan Kimono yang saya mau lagi dipakai orang.. Jadi saya mesti nunggu sekitar 10 menit.. It’s okay, saya tunggu daripada nyesel ga pake ini Kimono.. hahahaa.. Dan ternyata ga sampai 5 menit, itu Kimono udah ada.. akhirnya saya diantar menuju ke ruang untuk dipakaikan Kimono beserta assesoris nya.

Ternyata Kimono itu beraat banget yaaa.. Dan tight bangettt.. kenceeenggg bangetttt ngiketnya.. makanya mereka tidak memperbolehkan ibu hamil untuk berfoto pakai Kimono gini.. kebayang kan tuh perut nya dibebet sampe kenceeng.. duuh, saya aja sampe pengaap megap megap kayak mau kehabisan nafas.. Huhhu..

Habis pakai Kimono selesai, saya pilih assesoris rambut. Dan voila, saya sudah berubah menjadi Maiko.. Hehe.. Gimana? Cocok ga jadi Maiko?

13495324_10154266540564137_6048758939691661337_n

My transformation as Maiko

Setelah dandanan lengkap macam begini, saya diantar menuju ke studio foto yang ada di lantai bawah. Dan saya ketemu si kangmas yang takjub ngeliat muka putih semua kayak dipakein tepung.. haaahahaa.. but hello, it’s an art! Kangmas sih takutnya saya disangka Maiko beneran… hahaahhaa… Ternyata untuk si Samurai, cuma dipakein baju Samurai gitu aja, ga dibedakin, hahaha padahal kan mau difoto.. ya udah saya bedakin si kangmas dikit deh biar ga oily tuh muka..

Nah kita dikasih free time untuk foto-foto pakai kamera sendiri selama 10 menit. Langsung lah saya take pose dan kangmas jeprat-jepret pake kamera nya. 10 menit berlalu, tapi kita kok belum dipanggil untuk masuk ke dalam lagi yaa.. kayaknya petugasnya kelupaan.. hahahha.. hampir 20 menit kita dibiarin keliaran di luar foto-foto. Untungnya cuaca saat itu bagus, ga panas, tapi ga hujan juga.. Dingin sih, cuma itu Kimono tebel banget jadi bikin anget..

Akhirnya kita dijemput untuk dipanggil masuk ke dalam studio lagi, dan disana udah ada photographer nya yang siap buat taking photos. Photographer nya perempuan.. Ramah dan kooperatif sekali. Sesi foto berjalan menyenangkan.. 😀

Selesai difoto, saya kembali diantar menuju changing room, untuk melepas assesoris rambut, kimono, dan wig. Kemudian saya dibantu untuk membersihkan bedak putih di bagian punggung dan leher belakang saya. Untuk membersihkan make up, mereka sudah menyediakan peralatan yang lengkap, mulai dari kapas, milk cleanser, face tonic, bahkan shampo dan juga hair dryer.

Fiuuhh akhirnya selesai juga beberes nya, dan saya kembali diantar menuju ke tempat receptionist untuk melakukan pembayaran dan juga mengambil hasil foto. Dan hasilnya bagus sekali.. Tidak mengecewakan.. You get what you paid for.. Penasaran sama hasilnya.. Nih silahkan dilihat sendiri yaa..

10441169_10154007928329137_2338552959034606136_n

Love the details

 

1923844_10154007930529137_4995123883893181181_n

Greetings from Kyoto

12832460_10154007930824137_5455629298137157087_n

Samurai & Maiko

Well, that’s all my story.. Kalau ada yang berminat foto ala Samurai dan Maiko seperti kami, langsung aja dateng ke Maiko Henshin Shiki Studio, Kyoto.

Sayonaraaa..

Cheers,

❤ regina desi

Hello Hogwarts!

Welcome to Wizarding World of Harry Potter!

Saya mengenal Harry Potter dari kelas enam SD! Yupp, saya mengikuti kisah Harry Potter dari Sorcerer’s Stone sampai Deathly Hallows! Saya bisa langsung menghabiskan novel setebal buku kamus itu seharian penuh.. Dan ketika novel ini diangkat ke layar lebar pun saya tak pernah absen untuk menonton nya.

Hari kedua di Osaka ini memang saya khusus-kan untuk pergi mengunjungi Wizarding World of Harry Potter di Universal Studio Osaka. Saya berangkat pagi-pagi benar dengan harapan tidak perlu membeli Express Pass. Sebagai informasi, untuk memasuki wahana Harry Potter, kita diwajibkan untuk mengambil timed ticket. Apa itu timed ticket? Timed ticket adalah ticket yang harus kita miliki sebelum kita dapat memasuki Harry Potter world ini. Timed ticket dapat diambil secara gratis, dan disitu akan ada pilihan jam berapa kita bisa memasuki wahana tersebut. Namun di peak season, timed ticket ini rentan habis. Dan apabila sudah kehabisan free timed ticket, maka kamu tidak akan bisa masuk ke sini. Untuk berjaga-jaga di peak season, kamu harus membeli Express Pass 5 (tidak bisa memakan Express Pass 3), yang tentu harganya agak menguras kantong. Karena kami on tight budget, maka kami memilih untuk datang lebih pagi supaya tidak kehabisan free timed ticket tersebut. Hal ini tidak menjamin kami akan pasti kebagian timed ticket, but at least we try our best, karena dari Universal Studio sendiri juga memberikan kuota khusus untuk pengunjung yang datang on the spot.

Universal Studio dibuka pukul 10 pagi apabila tidak terlalu padat, dan akan dibuka lebih awal 1 jam apabila kondisi padat pengunjung. Saya tiba disana pukul 8 pagi and you can imagine, antrian sudah mengular panjangnyaaa, padahal itu weekdays and low season… Ternyata tidak hanya saya seorang yang berpikiran untuk datang lebih pagi. Ketika turun dari kereta pun, semua orang terlihat bergegas dan bahkan berlari *termasuk saya sih, tapi capek, abis gitu ya jalan aja, pasrah 😛

Namun dengan antrian yang luar biasa itu, masih dikategorikan biasa, karena gerbang US baru dibuka jam 10 pagi.. Singkat cerita kami berhasil masuk ke dalam US berbekal tiket yang sudah kami beli terlebih dahulu dari Jakarta. Saya beli tiket nya di JALAN Tour, saya sudah bandingkan harganya dengan HIS Tour, dan di JALAN Tour ini lebih murah, karena mereka harga nya fluktuatif based on rate Yen pada hari itu. Sedangkan harga tiket di HIS Tour sudah fix karena diambil harga rata-rata. Jadi saran saya apabila kamu mau mendapatkan harga yang lebih murah, belilah di JALAN Tour, tapi syaratnya, kamu harus rajin check kurs Yen tiap hari. Ketika rate nya turun, langsung deh beli 😀

Ketika sudah berada di dalam US, saya langsung minta kangmas buat lari menuju antrian timed ticket untuk mendapatkan tiket masuk Harry Potter world.. Saya menunggu dengan pasrah aja.. dan agak cemas juga sih, soalnya hape ga dapet wifi, saya ga bisa contact kangmas, jadi yaa saya pasrah aja nunggu di depan Harry Potter world.. Fiuuuhh tak lama akhirnya kangmas tiba dengan dua timed ticket di tangan, dan kita dapat giliran masuk jam 11.00! Yipppiiiee! Jadi tidak perlu menunggu terlalu lama.

Kami pun bersiap dengan kostum yang sudah saya siapkan.. sambil menunggu jam 11 kami sempat ke Snoopy World, tapi ternyata itu wahana buat anak kecil banget..sempet lihat-lihat souvenir, tapi ga niat beli, karena harganya bisa bikin kantong kempes.. 😛 Tapi disini kita boleh foto-foto lhooo, bebas, ga bakal diomelin sama petugasnya.. 😀

IMG_20160306_110437

Nyobain Russian Hello Kitty ini… cuma buat foto aja.. kalo beli mahal sisstt!

Giliran kami pun tiba.. Timed ticket dicek oleh petugas *oiya, petugas disini ramah-ramah! And voila! We are here!

IMG_20160314_213451

Welcome to Hogwarts Express!

Kekaguman tersendiri ketika akhirnya berkunjung ke Wizarding World of Harry Potter di Universal Studio Osaka. Dari gerbang awal masuk, saya sudah “tersihir” dengan wizard ambience di Hogsmeade Village.. Saya merasa menjadi salah satu dari murid Hogwarts.. Lengkap dengan kostum, tongkat sihir, dan tak lupa merasakan makan siang di restoran favorit Harry Potter, yaitu di Three Broomstick 😀

10371916_10154007941544137_5128604964016111888_n

Hollaa.. I’m Desi.. and yesss, I’m from Gryffindor!

Hanya bermodalkan sweater hitam lengan panjang, kemeja putih, dasi ala Gryffindor, rok lebar hitam, legging hitam, tongkat dan buku, jadilah saya murid Hogwarts.. 😀

Setiap sudut di dalam HarPot world ini bagus banget untuk photo session.. makanya saya betah banget di dalam sini, dari pagi sampai sore, selain alasan karena kita hanya diperbolehkan masuk ke wahana ini sekali. Jadi begitu kita sudah keluar dari wahana ini, kita tidak bisa masuk lagi.

Rides / permainan yang wajib dicoba disini adalah Harry Potter and The Forbidden Journey, jadi semacam permainan rollercoaster 4D. Wajib banget dicoba.. seolah-olah kita diajak oleh si Harry Potter untuk naik ke sapu terbangnya, mengejar Quidditch, sampai dikejar sama Dementor.. serrruuuuu.. pengen naik lagi, tapi apa daya antri nya puaaannjaaanngg banget.. saya aja menghabiskan waktu 120 menit untuk antri naik rides ini. Selain itu si kangmas mulai deh kumat mual-mual nya.. Jadilah saya mengurungkan niat untuk naik ini lagi. Dan kami pun memutuskan untuk beristirahat sebentar, sambil meredakan mual-mual nya si kangmas. Kebetulan kita juga belum makan siang, jadilah kita menuju ke Three Broomstick.

Harga makanan disini termasuk agak mahal. Satu orang bisa menghabiskan sekitar 2,000 yen. Tapi karena belum tentu setahun sekali kesini, or belum tentu juga bakal kesini lagi, jadi ya gpp, toh memang sudah dibudgetin untuk makan disini. Makanan yang kita pesan adalah pork ribs, lengkap dengan potatoes and corn fiesta. Rasanya? Enak kok, tapi yaa porsi nya ga sebanding sama harga nya.. Porsi nya imut benerrr.. 😀

IMG_20160314_213632

Pork ribs fiesta, with potatoes, chicken and corn

Arsitektur di dalam Three Broomstick ini betul-betul membuat imajinasi saya terbang ke dalam kisah yang ada di novel Harry Potter.. Membayangkan bagaimana Harpot dan teman-teman nya suka ditraktir minum Butterbeer disini oleh Hagrid.. 😀

Selesai makan, masih ada satu agenda lagi di dalam list things to do saya, yaitu cobain Butterbeer.. yuppp penasaran banget sama butterbeer ini, karena konon ini adalah minuman favorit di Hogsmeade Village, dan salah satu minuman kesukaan nya si Harpot juga. Ada dua macam butterbeer, yang panas dan yang dingin. Saat itu cuaca dingin, sekitar 10 derajat Celcius, namun saya tetap memilih butterbeer yang dingin. Kenapa? Karena berdasarkan review yang saya baca, Hot Butterbeer rasanya manis ga karuan.. 😀

Jadilah saya beli Cold Butterbeer seharga 1,100 yen, dengan gelas yang bisa dibawa pulang sebagai souvenir. Bagaimana rasanya? Hmmm… enaaaak.. rasa nya seperti rootbeer dengan campuran creamy soda dan caramel.. saya sukaa..

1918614_10154007939364137_6965634749532339762_n

Enjoying the Hogsmeade’s specialty : Butterbeer!

Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan Butterbeer ini, lalu saya pergi ke toilet untuk mencuci gelas nya supaya tidak lengket dan bisa dibawa pulang. Oiya, di toilet di sini pun persis di design seperti yang ada di dalam novel. Inget kan kisah hantu toilet si Myrtle Merana.. Nah, suara dia tuh ada diseluruh sudut toilet.. tapi sayangnya dia pake bahasa Jepang, jadi nya saya ga ngerti deh dia ngomong apa, jadi nya gagal horor! 😛

Hari sudah sore dan saya sudah sangat lelah.. Tapi si kangmas masih mau nyobain rides nya Spiderman.. okelah.. saya ngikut ajaa.. sampai disana ternyata antrian nya yaa puaaanjjjaannnggg juga.. Akhirnya saya nyerah deh karena ga kuat antri lagi.. Dan saya suruh aja si kangmas lewat yang single rides karena waiting time nya lebih sedikit.. Betul saja, kurang lebih 20 menit si kangmas udah kembali lagi dan kami pun bergegas pulang, karena mau catch up agenda berikutnya yaitu ke Dotonbori.

Namun apa daya, kaki ini udah ga mau diajak kerjasama. Pegeeellll bangettttt… Jadi ya sudahlah, begitu sampe di penginapan, udah ga ada tenaga buat ke Dotonbori.. Belum lagi flu yang menyerang saya tambah parah. Jadilah saya putuskan untuk istirahat saja, ketimbang makin tepar dan akhirnya besok ga bisa jalan-jalan 😀

And that’s all for today.. Besok kita akan siap-siap ke Kyoto buat ketemu Maiko and Geisha.. hehehe.. stay tune for our next stories yaaa..

Cheers,

Regina Desi

 

Ohaiyo, Osaka!

Pagi itu Osaka menyambut kami dengan tiupan angin dinginnya.. Yup, walaupun winter sudah berlalu, namun musim semi belum tiba. Terpaan angin dari celah pintu garbarata seketika membuat saya serasa ada di dalam kulkas. Yup, suhu Osaka di pagi itu adalah 5 derajat Celcius. Dingin sekali untuk ukuran orang tropis macam saya..

Setelah mengambil bagasi, hal pertama yang saya ingin lakukan adalah mandi dan berias diri supaya oke kalo difoto.. hehhee.. Di Kansai Aiport – KIX Lounge disediakan shower and powder room. Lokasi lounge ini ada di lantai 2, dekat McDonalds. Harga untuk sewa shower room nya adalah 510 yen/orang. Nanti kita akan diberikan semacam koin. Waktu yang diberikan adalah 15 menit untuk mandi. Kalau 15 menit sudah habis, maka air akan berhenti mengalir. Namun kita boleh berada di dalam shower and powder room tersebut maksimal 1 jam. Menurut saya ini waktu yang sangat lebih dari cukup untuk mandi dan dandan. 😀

PhotoGrid_1459256231546

Sudah segar kembali dan siap untuk explore Osaka! Saat itu jam menunjukkan pukul 10 pagi. Kami bergegas menuju ke counter tiket untuk membeli ICOCA Card dan Haruka (nanti disuruh pilih kartunya, saya pilih yang gambarnya Hello Kitty). ICOCA Card ini semacam e-money, kalau di Indonesia mungkin semacam flazz or e-toll yang bisa diisi ulang, jadi ketika kita mau naik kereta, cukup tap saja dan saldo di dalam kartu itu akan berkurang sesuai dengan jumlah pemakaian kita.

Dari Kansai Airport kami menuju ke ShinOsaka Station, salah satu station besar di Osaka, dan kebetulan kami mendapatkan penginapan yang lokasi nya dekat dengan stasiun ini, dan harganya cukup murah, yaitu 800rb/malam, bisa diisi max 4 persons.

10157247_10154007922874137_2607296388000598313_n

On my way to go to Shin Osaka Station from Kansai Airport..

Kereta di Jepang sangat sangat sangat ontime.. Jangan disamakan dengan KRL Jabodetabek yang masih jauuuuuuhhhh dari kata ontime (but at least KRL sekarang jauh ada peningkatan). Untuk kalian yang berencana pergi ke Jepang dengan ala backpacker / flashpacker, ada baiknya untuk selalu check jadwal kereta di Jepang melalui hyperdia.com. Jalur kereta di Jepang amatlah banyak dan agak rumit bagi pemula. Bagi saya pribadi, susah sekali untuk memahami jalur kereta di Jepang ini. Jauh lebih mudah jalur kereta di Eropa dibandingkan di Jepang ini. Belum lagi keterbatasan saya yang tidak bisa membaca huruf kanji, jadi mesti betul-betul pay attention sedang berada di stasiun mana, harus turun di stasiun mana, harus naik dari line mana, dll.

Perjalanan ke ShinOsaka memakan waktu kurang lebih 45 menit. Begitu tiba disana, angin dingin kembali menerpa.. huhuhu.. ga nyangka yaa di Jepang bisa sedingin ini.. hehehe.. Dan kesan pertama masuk ke dalam stasiun nyaa… woooww! bersih dan rapi sekali.. banyak juga toko-toko yang menjual makanan yang sedap dipandang mata.. bikin laper mata banget deh!

Karena jam check in penginapan di Jepang rata-rata adalah jam 3 sore, maka kami pun memutuskan untuk pergi mengunjungi Osaka Castle terlebih dulu. Koper pun kami titip di loker penyimpanan yang ada di stasiun. Harga loker untuk penitipan tas/koper ini bervariasi, mulai dari 400-700 yen, tergantung ukuran loker yang dipakai. Saya menyewa satu loker untuk menitipkan 2 buah koper saya seharga 700 yen untuk 24 jam. Selesai menitipkan koper, saya pun mencari makan siang. Banyak pilihan dan bikin bingung hingga kami berputar-putar station.. Dan akhirnya kami memutuskan untuk makan bento saja.. hehehee.. Harga bento juga variatif, antara 700 – 850 yen. Saya cap cip cup aja deh milihnya, yang agak eye catching.. karena ga bisa baca apa artinya.. hehehe.. dan yang paling penting harganya harus on budget..

PhotoGrid_1459258348329

Our oishiiii (yummy) bento..

Yup, lihat deh bento saya.. ditata begitu apik dan cantik.. dan rasanya enaak bangetttt.. tidak salah kalau Osaka dibilang sebagai Japanese kitchen.. bahkan bento siap saji begini pun rasanya enak.. Harganya 850 yen per kotak. Isi nya banyak dan sangat mengenyangkan.. Kami pun menghabiskan bento dengan cepat karena lapeerrr euy! 😀

Selesai isi bensin, kami langsung tancap gas menuju Osaka Castle. Tiba disana ternyata untuk masuk ke dalam Castle nya itu mesti jalan kaki sekitar 15-20 menit.. Jauuuuhh yaaa.. tapi tidak terasa karena disuguhkan pemandangan yang cantik di sepanjang jalan, dan juga sedikit-sedikit berhenti buat pose and take photos!! 😀 😀

Akhirnya tiba juga di depan Osaka Castle yang selama ini hanya bisa saya lihat dari internet saja. Ternyata kalau kita mau masuk ke dalam Museum yang ada di Castle tersebut, kita harus membayar lagi.. karena budget yang amat ketat   waktu yang amat sempit, akhirnya kita memutuskan untuk tidak masuk ke dalam Museum tersebut, dan hanya taking photo di luar nya saja.

10547590_10154007923154137_2406832051464755704_n

Romantic view in Osaka Castle

But anyway karena tidak memprediksikan Osaka Castle yang jarak tempuh nya dengan berjalan kaki itu cukup jauh, maka kami hanya menghabiskan waktu sebentar saja disini.. Bahkan saya tidak sempat mencicipi Takoyaki Osaka yang happening itu, karena waktu itu kondisi nya lagi antri, and we don’t have enough time lagi. Kami harus bergegas check ini ke penginapan dan pergi ke Tsutenkaku Tower untuk mengikuti Cooking Class by Eat Osaka.

Sampai di ShinOsaka Station kami segera mengambil koper kami di penitipan, dan disinilah drama dimulai.. Peta alias google maps yang kami andalkan ga bisa diakses karena batere hp kami dua-dua nya droppp.. hahahahaha.. bahkan batere cadangan saya juga belum sempat di re-charge.. Jadilah kita nanya2 dengan berbekal kertas print out bookingan AirBnB.. Tapi petugas disana juga ga tau pasti karena tulisan nya dalah bahasa latin, bukan bahasa kanji..  *hadoooohhh..

Kalau di Jakarta, pasti yang saya lakukan adalah numpang nge charge hp yaa.. tapiii sodara-sodara, di Jepang ini sangat susah sekali untuk bisa numpang nge charge hp.. walaupun kita udah minta-minta tolong, tetep aja mereka strict to the rules.. tidak ada charging station di public area.. bahkan kita numpang makan di cafe-cafe pun, mereka tidak mau nolongin untuk charge hp..

Yo wes lah, karena waktu habis nyari2 alamat si penginapan ini, kami memutuskan untuk langsung pergi ke Cooking Class saja.. takut telat euy! Emangnye di Jakarta yang bisa dimaklumin kalo telat… Hahahahaa.. Jadilah kami bergegas untuuukkkk naro lagi tuh koper di loker.. hiksss rugi 700 yen lagi deh.. tau gitu kan ga usah diambil dulu tuh koper..

Berbekal nekat si kangmas nanya aja deh tuh Tsutenkaku Tower dimana.. Saya pun akhirnya kehilangan kontak sama temen saya, Machiko yang janjian untuk ketemuan disana. Beruntung ketemu sama petugas station yang bisa bahasa Inggris, akhirnya dikasih tau mesti naik kereta apa di jalur yg mana *karena kita ga bisa ngecek hyperdia.com

Turun kereta celingak celinguk nyari tuh Tsutenkaku Tower. Si kangmas yang super sotoy langsung aja nunjuk satu bangunan yang emang sih mirip Tower.. ya saya dodolnya ngikut aja.. terus nanya orang di pinggir jalan, eh itu orang ngasih arah petunjuk yang lain.. orang ini niat banget ngebantu cuma terkendala di masalah bahasa, dan akhirnya oke oke aja lah kita berdua karena gagal paham itu orang jepang ngomong apa.. yo wis kita ikutin arah yang dia tunjukkin tadi.. trus pas ketemu orang lagi, kita tanya lagi, sambil saya deg-degan karena udah mau jam 4 sore (kurang 5 menit lagi)… untungnya jam disetting dalam jam ala Indonesia, jadi sebenernya masih ada 15 menit yang tersisa… hahahhaa.. Daan akhirnya ketemu juga itu si Tsutenkaku Tower walaupun dengan napas ngos-ngosan karena pake adegan lari, jalan, lari lagi, jalan lagi sambil mikirin kalo telat bakalan nyesel deh ga bisa ikutan cooking class ini, dan gagal deh ketemu Machiko..

Tapi Tuhan baik banget sama kita.. pas kita sampai disana belum ada siapa-siapa.. mau contact temen saya, Machiko, juga ga bisa… mau kabarin host nya kita udah sampe, ga bisa juga.. ya akhirnya kita diem di bawah Tsutenkaku Tower aja deh, sampaaii kemudian kita denger ada 2 orang bule nyebut cooking class gitu.. langsung aja deh ditanya sama si kangmas, and yippie mereka mau ikutan cooking class juga.. dan ga lama, dari kejauhan, datanglah Machikoooo… aarrgghhhh… kangen sekali sama Machiko.. Machiko adalah teman nyanyi saya di Jakarta.. ga nyangka ketemu Machiko lagi, tapi kali ini bukan di Jakarta, melainkan di Osaka! Yeaayeyeyayyy super happy!

PhotoGrid_1459258482835

Cooking Class by Eat Osaka

IMG_20160314_234504

With our Sensei “Aya”.. She’s great teacher..

IMG_20160314_234716

With Machiko Chan 😀

IMG_20160407_230542

One of the best moment in my life.. having cooking class with my dear friend, Macchan.. 😀

Yupp, I love cooking, makanya saya excited banget ketika googling dan nemu si cooking class ini.. Saya pilih untuk belajar Japanese Street Food, yaitu bagaimana cara membuat Kitsune Udon mulai dari tepung, terus belajar bikin Yakitori, dan belajar bikin Chopstick  Okonomiyaki. Dan malam itu sangattt menyenangkan, jadi lupa deh sama drama tadi sore.. hehehee.. Untuk cooking class ini harganya 6,500 yen per orang. Tapi ilmu yang didapat worth it banget! Sekarang saya sudah bisa bikin okonomiyaki dan yakitori sendiri loh.. 😀 *lihat foto di bawah yaa.. dijamin bikin mouth watering..ahaahhaa…

IMG_20160327_212030

Okonomiyaki asli buatan saya ❤

Untuk bikin Okonomiyaki ini gampaang bangett… Cuma telur, terigu, wortel, kubis dan air..Campur semua bahan, lalu tuangkan adonan di atas pan yang sudah diberi minyak.. tambahkan saus okonomiyaki, mayonaise, dan dried konbu 😀

IMG_20160403_100449

My homemade “Yakitori”

Yakitori di Jepang enak bangettt yaaa.. karena ternyata mereka pakai sake dan wiski.. ahahaa.. pantesan harum nya beda.. wkwkwk.. nah buatan saya ini ga pake wiski, tapi pake sake aja.. pakai daging ayam tanpa tulang bagian paha atas, dan juga pakai octopus.. hehehe.. Cara membuat nya juga mudah sekali.. Pakai soya sauce, mirin, sedikit dashi, air dan jangan lupa “Sake”.. Selamat mencoba..

Oiya, Macchan sempat membawakan saya kue Baumkuchen yang amat terkenal di sana, yaitu buatan Club Harie, yang berasal dari Shiga Perfecture, tempat Macchan tinggal. Rasanya enaaak sekaliiii.. Ini Baumkuchen terlezat yang pernah saya coba.. Baumkuchen di Jakarta kalaaaahhh jauhhh… Ini penampakan nya.. Dan kue-kue di Jepang rata-rata tidak bertahan lama, paling lama 1 minggu, karena mereka tidak menggunakan pengawet..

IMG_20160308_204011

Baumkuchen by Club Harie.. Rasanya lezat sekali ❤

Oiyaa, belum selesai ceritanya.. selesai dari Cooking Class, Macchan yang baik hati menawarkan untuk mengantarkan kami ke Station ShinOsaka, dan dia juga menawarkan untuk mengantarkan dua bule australi tadi ke stasiun terdekat.

Domou Arigatou, Macchan.. See you in Kyoto..

Cheers,

Regina Desi

 

Day 5 : Last day in HK!

Holla I’m back to finish my Hongkong stories! 😀

Di hari terakhir di HK, kami menyempatkan diri untuk mencicipi satu resto dimsum yang terkenal di kalangan blogger, yaitu Tim Ho Wan. Yak, lokasi Tim Ho Wan sangat mudah untuk ditemukan, karena berada di dalam stasiun metro.

Ketika tiba disana, tampaklah pemandangan antrian panjang yang mengular.. OH NO! Tapi ya karena penasaran, dan sudah sampai, jadi ya saya ngantri aja.. Typical pelayanan di resto2 HK jangan disamakan dengan pelayanan di Indonesia yaa.. Orang-orang disini memang cepat dan cekatan dalam bekerja, namun jangan mengharapkan senyuman manis dan ramah dari mereka. Semua waiters disini muka nya sepettt.. hahahaha.. Untuk tempat duduk pun, kalau hanya berdua ga boleh duduk sebelahan, tapi harus berhadapan.. Pokoknya kalau disini the waiter is the king lah.. customer kudu ngalah dan rela diatur.. 😀

Tak perlu lama untuk menunggu makanan datang.. Order pun sangat cepat.. Pelayan disini memang cekatan.. Walau semua serba cepat, saya tak lantas jadi buru-buru cepat makan juga.. Saya mau menikmati tiap menu yang saya pesan..

Menu yang saya pesan yaitu pork bun mereka yang terkenal crispy namun lembut dengan citarasa pork yang lumer di mulut.. tak sia-sia lah kami mengantri 😀

Selain itu, menu lain nya yang saya pesan ada soft cake, nasi tim ayam, siomay, dan gyoza.. semua nya enak dan habis dalam sekejap.. sluurrrpp.. (walaupun udah dilama-lamain, tetep aja makan nya cepet.. hahaha.. 😀

PhotoGrid_1446089695325

Setelah perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan ke Victoria Peak.. Kami menuju kesana menggunakan bus. Rasakans sensasi yang berbeda yang bikin jantung serasa mau copot… Kenapa?? Ya karena jalanan yang berkelok-kelok dan menanjak serta sempit,  serta jurang disisi kanan dan kiri.. Kalau kalian gampang mual, saya sarankan naik tram saja, jangan naik bus, kecuali sudah siap sedia Antimo 😀

PhotoGrid_1446089383098

Perjalanan memakan waktu kurang lebih 45 menit. Sesampainya disana, kami langsung menuju “the peak”. Ada dua gedung, yang gratis dan yang berbayar. Tentu saja kami pilih gedung yang tidak berbayar dong, toh yang penting bisa sempet foto-foto. Mungkin the peak ini akan lebih cantik apabila dilihat di malam hari. Karena keterbatasan waktu, maka kami datang kesana di siang hari, and sorry to say, pemandangan yang kami dapatkan biasa saja.. Puas berfoto-foto, kami pun segera kembali for catch up our flights back to Jakarta.

PhotoGrid_1446089123830

PhotoGrid_1445586269102

Ketika pulang, kami memilih untuk naik Tram. Dan ternyata tram disini kursi nya tidak bisa diputar. Belum lagi ternyata penumpang yang naik overload, alias kapasitas penumpang tidak disesuaikan dengan jumlah kursi yang ada. Jadilah berebut, dan saya males rebutan sama orang-orang kampung yang sadis-sadis banget rebutannya, dan akhirnya memilih berdiri.. Tapi siapa disangka, justru saya bersyukur karena ga dapat kursi, karena kalau duduk di kursi, rasa nya aneh banget, ditarik mundur gitu.. Untunglah saya berdiri dan bisa menghadap searah dengan arah tram meluncur.. *lucky me 😀

PhotoGrid_1446093523868

Oiya, apabila kalian membeli tumbler Starbucks di HK, maka kalian akan mendapatkan voucher gratis minuman di Starbucks, namun harus ditukarkan hari itu juga. Jadilah saya dapet gratis Starbucks terus karena banyaknya titipan tumbler dari temen-temen.. hehhe..

PhotoGrid_1446088971231_2

Well, that’s all my story about HK.. Overall, tidak ada yang menarik di HK (ini pendapat saya pribadi ya…) Kenapa tidak menarik? Ya karena menurut saya, HK tidak memiliki suatu ciri khas yang mebuat dia outstanding, dan menjadi daya tarik sehingga saya ingin kembali lagi ke sini. Dari sisi culture tidak ada, kuliner pun standar banget.. mungkin hanya egg tart saja yang enak, namun egg tart pun masih bisa saya temukan di Jakarta sini. Dari sisi hospitality, HK jauh dari kata ramah.. Kotanya pun sempit sesak dengan bangunan tinggi menjulang.. Pemandangan alam nya pun masih kalah dengan Indonesia.. Nothing special.. Dan mungkin ini akan jadi perjalanan saya yang petama sekaligus yang terakhir ke HK, kecuali kalau ada yang mau bayarin gratis saya, I would accept it.. Hehe.. See you readers on my another stories.. 😀

Cheers,

~regina desi~