Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘The Indonesia Choir’ Category

Friday, 01 November 2013

Welcome November.. Memasuki bulan November di kota Zarautz ditemani dengan hujan di pagi hari.. Yak, Zarautz gerimis lagi pagi ini, dan rasanya saya pengen narik selimut lagi..

Hari ini adalah hari The Indonesia Choir berkompetisi dalam 45th Tolosa Choral Contest. Pagi-pagi benar saya sudah mempersiapkan diri.. Makeup, pasang bulu mata, pasang bunga, sippp udah cantik mirip gadis Spanyol.. 😛

Kompetisi akan diadakan di kota Tolosa. Perjalanan kesana sekitar kurang lebih 1 jam dari kota Zarautz.

Camera 360

with kangmas yang setia menemani ❤

Camera 360

make-up sendiri..

TIC akan mengikuti 2 kategori perlombaan,  yaitu Polyphony dan Folklore.. Nah, ini dia foto saat kita mengikuti perlombaan Polyphony.. Pakai seragam gaun longdress warna merah plus bolero putih dengan sentuhan motif dari kain Bali.. Represent warna Indonesia sekali yaaah.. Merah Putih!

Merah Putih!

Merah Putih!

Dan untuk kategori Folklore, kami memakai baju yang terinspirasi dari baju adat Dayak, Kalimantan Timur..

udah mirip gadis Dayak belum?

udah mirip gadis Dayak belum?

Naah, kalau yang cowo diberi tato boongan di lengan nya biar lebih macho.. hehehe.. saya bantuin bikin tato nya.. 😛

Bantuin bikin tato nya Ojan..

Bantuin bikin tato nya Ojan..

tak ada cat, spidol pun jadi..

tak ada cat, spidol pun jadi..

with Inigo, our LO!

with Inigo, our LO after competition!

Choral Contest ini diikuti oleh 7 negara dari seluruh dunia, dan TIC terpilih dalam seleksi untuk mengikuti kompetisi ini. TIC merupakan wakil dari Indonesia, dan satu-satu nya wakil dari Asia. Saya sangat bangga bisa terpilih dalam seleksi TIC untuk bergabung bersama tim TIC Goes to Tolosa.  Saya sangat bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan yang boleh diberikan kepada saya. Thanks Lord Jesus! Cerita tentang kompetisi selengkapnya akan saya ceritakan di thread terpisah yaa.. stay tuned! 😀

Tolosako

45 Tolosako Abesbatza Lehiaketa

Selesai berkompetisi, kami akan makan malam bersama dengan seluruh peserta. Karena Indonesia penampil nomor dua, maka kita harus menunggu 5 peserta lainnya selesai berkompetisi. Sekitar jam 7 malam, kompetisi selesai, dan kami menuju ke ruang makan. Hasil kompetisi akan diumumkan besok.

this is our dinner! 3 potong paha ayam donggg! ndut deh!

this is our dinner! 3 potong paha ayam donggg! ndut deh!

with kangmas..

everyday is baguette day..

Selesai makan malam, kami kembali ke hotel untuk beristirahat. Besok pagi kami akan jalan-jalan ke kota San Sebastian.. Yeaaay! Good nite everybody! Sleep tight!

Cheers,

Regina Desi

Advertisements

Read Full Post »

The 2nd Pre-Competition Concert for TIC Goes to Tolosa.. 😀

Beruntung masih berhasil dapat 5 tiket.. tiket nya laris manis tanjung kimpul!

Beruntung masih berhasil dapat 5 tiket.. tiket nya laris manis tanjung kimpul!

Yaakk, tepat 22 Oktober 2013 kemarin, TIC kembali menggelar konser Pra-Kompetisi bertajuk “Jakarta Punya Cerita”.. Ini konser pre-kom kedua setelah sebulan yang lalu TIC juga menyelenggarakan konser pre-kom bertajuk “Nyanyian Tanah Merdeka”.

Konser JPC ini diselenggarakan berkat dukungan dari Pemprov DKI Jakarta – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (*big thanks for them).. Dan perjalanan TIC ke Tolosa, Spanyol nanti juga sepenuhnya disponsori oleh Dinas Pariwisata & Kebudayaan DKI Jakarta..

Di konser JPC kami membawakan 2 lagu betawi yang baru saja kami pelajari dengan amat sangat the flassshh yaaa.. belom lagi belajar koreo nya.. Tapi alhamdulilah semua lancaaarrr… Kami membawakan Ondel-Ondel dan Keroncong Kemayoran.. Selebihnya lagu-lagu yang dibawakan sama dengan konser Nyanyian Tanah Merdeka, yaitu lagu-lagu yang akan kita bawakan nanti pada saat berkompetisi di Tolosa, Spanyol.

Konser dibuka dengan lagu Sik Sik Si Batumanikam.. Seperti biasanya, saya langganan jadi solis di lagu ini.. 😛 Tapi kali ini pasangan solis nya bersama Jhorlin dan kak Nancy.. Lagu pertama dibawakan dengan aman.. fiuuh legaaaa.. *kalau sampe lagu ini nyanyiin nya salah mah kebangetan bangetttt!!! 3 tahun di TIC booo!

Walaupun lagu nye lagu Batak, tetep doong baju nye baju none Jakarte.. Niihhh baju konser kite kemaren.. *diperagain sama ALTO

None none Jakarte

None none Jakarte

Kostum ini dipakai untuk 3 lagu, yaitu Sik Sik , Ondel – ondel, dan Keroncong Kemayoran.. Abis ituuuu kita cusss langsung ngibrit buat ganti kostum untuk lagu kategori Folklore.. Sayang foto nya ga ada karena belom sempet foto udah harus ngacir lagiii untuk ganti kostum ketiga, untuk lagu kategori Polyphony.. Dan aku sukaa deh sama kostum yg terakhir ini.. Originally designed by our Kak Christine ALTO.. Perpaduan Espanola – Endonesia yaakkk.. Merah putih ahahahhaay.. ini penampakannya.. keceeee banget yaaa… ❤

ALTO in Red and White

ALTO in Red and White

 

Sketched by Kak Christine..

Sketched by Kak Christine..

Di konser kemaren kita kedatangan Pak Raden juga lohhh.. inget kan film si Unyil.. 😛 Baru kemaren ngeliat Pak Raden langsung.. Itu kumisnya tempelan ternyata *yaiyalahdesssss!

Lagu demi lagu bergulir, dan tanpa terasa selesai sudah lagu terakhir dinyanyikan.. Doakan kami yaaa saat berkompetisi nanti di Tolosa, Spanyol.. God bless us.. Semua indah pada waktunya.. 😀 *ngarep.bisa.tetiba.hafal.salve.regina.

 

Cheers,

Regina

Read Full Post »

Huta Siallagan, berada di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Pulau Samosir, Kabupaten Samosir, terletak 150 m dari pinggiran Danau Toba, Pulau Samosir bagian Timur, berjarak 3 km dari Tuktuksiadong (pusat perhotelan) atau 5 km dari huta/kampung Tomok (dermaga Ferry) sementara melalui danau berjarak 12 km dari kota Parapat. Luas huta Siallagan diperkirakan 2.400 m persegi, dengan sebuah pintu gerbang masuk dari sebelah Barat Daya dan pintu keluar dari arah Timur. Huta ini dikelilingi dengan tembok batu alam dengan ketinggian 1,5 – 2,00 meter yang disusun dengan rapi. Pada masa lampau sebagaimana disebutkan tadi, tembok dengan lebar 1-2 meter ini ditanami dengan bambu untuk menjaga huta dari gangguan binatang buas maupun penjahat. Dari pintu masuk terdapat patung batu besar yang diyakini sebagai penjaga dan mengusir roh jahat yang ingin masuk kedalam huta, patung ini disebut Pangulubalang. Dimasa lalu orang-orang yang tinggal di huta Siallagan termasuk Raja Siallagan masih menganut agama asli Batak (agama Parmalim) http://scalatoba.blogspot.sg/2010/07/legenda-batu-kursi-persidangan.html

Yupp.. sore itu kami menuju ke salah satu objek wisata yang ada di Samosir, yaitu Huta Siallagan atau Kampung Adat Siallagan. Kami disambut ramah, dan ditemani oleh tour guide yang tak lain adalah Raja Siallagan. Woow, kebetulan sekali.. 😀

Oleh Raja Siallagan kami diceritakan banyak hal mengenai sejarah dan tradisi Batak, sampai cerita yang membuat kami penasaran, yaitu cerita ‘Orang Batak makan orang’… hiiii syereemmm.. konon dahulu kala, orang Batak dikenal dengan kanibalisme nya.. Seperti apa ceritanya, nah, ini saya ambil dari internet, rangkuman ceritanya, persis seperti apa yang diceritakan oleh Raja Siallagan..

Sebelum eksekusi dilaksanakan, atas perintah Raja, Eksekutor yang juga Datu (memiliki ilmu gaib) menanyakan keinginan permintaan terakhir dari sang penjahat. Bila tidak ada lagi, selanjutnya eksekutor menanggalkan semua pakaian dari tubuh penjahat dan mengikat tangannya ke belakang. Menurut yang empunya cerita, ditanggalkannya pakaian penjahat adalah untuk mengetahui dan menghilangkan bilamana kekuatan gaib yang dimiliki oleh penjahat. Kemudian tubuh penjahat disayat dengan pisau tajam, sampai darah keluar dari tubuhnya. Bila sang penjahat yang disayat tidak juga mengeluarkan darah, maka penjahat dibuat telanjang dan diletakkan diatas meja batu, kemudian disayat-sayat kembali bahkan air jeruk purut diteteskan kedalam luka sayatan, sehingga eksekutor yakin sang penjahat tidak lagi memiliki kekuatan gaib di tubuhnya. Eksekutor harus memastikan bahwa sang penjahat sungguh-sungguh tidak memiliki kekuatan apapun, jauh dari segala sesuatu yang berbau kekuatan magis.

Selanjutnya tubuh sang penjahat diangkat dan diletakkan ke atas batu pancungan telungkup dengan posisi leher persis berada disisi batu, sehingga kelak bila dilakukan eksekusi, sekali tebas kepala terpisah dari tubuhnya. Selanjutnya Sang Datu, dengan membacakan mantra-mantra kemudian mengambil pedang yang sudah tersedia, dengan sekali tebas, kepala penjahat dipenggal hingga terpisah dari tubuhnya. Untuk mengetahui apakah benar penjahat sudah mati, sang Datu kemudian menancapkan kayu “Tunggal Panaluan” ke jantung penjahat, lalu jantung dan hati dikeluarkan dari tubuh penjahat dan darahnya ditampung dengan cawan. Hati dan jantung penjahat dicincang dan kemudian dimakan oleh Raja dan semua yang hadir, darahnya juga diminum bersama.

Masih menurut cerita, Bagian Kepala dibungkus dan dikubur ditempat yang jauh dari huta Siallagan, biasanya tempat yang tidak pernah disentuh oleh manusia, sementara bagian badannya dibuang ke danau. Menurut kepercayaan mereka dahulu, bahwa memakan bagian tubuh penjahat adalah menambah kekuatan dari mereka yang memakannya. Percaya atau tidak, ini hanya cerita yang terjadi masa dulu, hingga diawal abad ke 19. Dalam suasana seperti itu Sang Raja memerintahkan agar masyarakat tidak boleh menyentuh air danau selama satu sampai dua minggu, karena air masih najis dan berisi setan.

Beberapa waktu kemudian zaman kegelapan berakhir, hingga masuknya agama Kristen ke tanah Batak oleh Pendeta Jerman Dr.I.L.Nommensen, penerapan hukuman pancung seperti diceritakan tidak lagi dilaksanakan bahkan sudah dihapuskan termasuk ilmu-ilmu gaib/kebathinan semakin ditinggalkan, karena masyarakat sudah memeluk Agama, dan bila terjadi kejahatan dan kriminal, selain mempergunakan hukum adat juga dipergunakan hukum Negara (hukum pidana, hukum perdata)

Bilamana cerita ini dimasa kini kemudian dianggap sebagai sebuah cerita yang menimbulkan opini bahwa orang Batak adalah kanibalisme, boleh saja demikian karena zaman dahulu ratusan tahun yang lalu kehidupan primitif Batak sudah pasti sangat berbeda dengan Batak zaman modern sekarang ini. Namun cerita itu tidak perlu ditutup-tutupi agar kedepan dapat ditarik hikmah, makna dan arti positif masa lalu. Sejarah, adalah masa lalu yang dijadikan cermin bagi masa depan. http://scalatoba.blogspot.sg/2010/07/legenda-batu-kursi-persidangan.html

Hiihiii, untungnya sekarang udah bukan jaman animisme yaah sodara-sodara.. ogah banget yeee makan daging penjahat *amit-amit.ngusep.perut.. Ini foto kami *fotobayangandoangtepatnya.. hihi..

Huta Siallagan

Huta Siallagan

Read Full Post »

the.beauty. secret.of.desi

the secret, power of mind, and financial freedom