Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Travel Story’ Category

Processed with VSCO

Hello, Vienna!

Bermula saat si airlines impian “Thai Airways” membuka rute baru ke Vienna di akhir 2017 yang lalu dengan memberikan harga promo. Tak disangka rute baru itu kebetulan sekali adalah rute impian saya, yaitu Vienna / Wina, seharga 7,5jt/pp/orang/nett, sudah termasuk meals dan bagasi.. Yeaaay.. Tiket sudah dibeli dari bulan Okt 2017, dan keberangkatan di bulan Mei 2018..

Nah, gimana untuk urusan Visa? Untuk mendapatkan visa kami apply sendiri tanpa melalui calo. Karena rute kami adalah masuk dari Vienna dan keluar dari Roma, dan setelah dihitung, staying duration kami lebih lama di Austria, maka kami memutuskan untuk apply Schengen Visa via Kedutaan Austria (Austria yaa, bukan Australia.. bedaa atuuh!)

Proses pembuatan visa pun terbilang cukup mudah.. Ikuti saja semua prosedur nya dan lengkapi persyaratan nya, niscaya visa kamu approved.. *walau sempet deg-degan siiih.. Untuk details apply Schengen Visa via Austrian Embassy ini saya tulis terpisah yaa.. Sekarang saya mau ceritain dulu kisah ngebolang to Europe ini..

Here we go..

Sunday, 20th May 2018

Sebelum berangkat beberapa persiapan yang kami lengkapi adalah beli Sim Card Euro, seharga Rp 300.000 untuk 2GB, namun sayang nya tidak bisa dijadikan hotspot.. Jadilah karena si kangmas yang lebih perlu koneksi internet biar ga nyasar, saya ngalah dulu deh, ngarep dapet wi-fi gratisan aja nanti di public area..

Perjalanan menuju bandara kami naik taksi, jalanan cukup lancar, dan tak lama tibalah kami di Terminal 3 – Soekarno Hatta Airport. Di sini saya sempat beli souvenir pembatas buku di Batik Keris untuk oleh-oleh para host kita di AirBnb nanti.

Leg pertama yaitu Jakarta – Bangkok yang memakan waktu kurang lebih 3,5 jam, kemudian transit selama 3 jam, lalu dilanjutkan leg berikut nya yaitu Bangkok – Vienna selama kurang lebih 6 jam. 3 jam adalah waktu yang cukup untuk transit di Suvarnabhumi Airport. Tidak terlalu lama, tidak terlalu cepat. Bahkan saya sempat mencicipi mango sticky rice (it’s a must!).

Thai Airways ini airline impian saya.. kursi nya berwarna-warni menjadi daya tarik tersendiri (well, at least for me), dan kebetulan saya dapet kursi warna favorit saya.. pink fuschia.. hehe.. Seneenng banget..

20180520_184311

Flying with Thai Airways (Leg Jakarta – Bangkok) …

20180521_023321

In-flight meals

20180521_010242

Next leg, Bangkok – Vienna

20180520_194509

In-flight meals (dinner)

20180520_201414

Aimee, yang selalu ngikut kalo saya travelling kemana aja.. 😀

20180521_062946

Boeing 787 – Window shading

20180521_084911

In-flight meals (Breakfast)

Monday, 21st May 2018

Waktu menunjukkan pukul 01.20 dini hari. Kami siap melanjutkan leg berikutnya yaitu Bangkok – Vienna. Perjalanan ke Vienna memakan waktu kurang lebih 6 jam. Pukul 07.30 pagi, kami tiba di Vienna International Airport. Lanjut untuk immigration process + baggage collection.

Setelah selesai baggage collection, we found out kalau ternyata roda koper kita jebol.. hiiikssss.. harusnya sih kalau mau ngurus, kita bisa kok mengajukan claim ke AXA (travel insurance yang kita beli), tapi karena jadwal yang tight, dan koper nya masih bisa gerak roda nya, ya udah lah, kita lanjut aja untuk beli 24hours Vienna train ticket.. Ticket ini bisa dipakai dari Vienna Airport to Wien Mitte Station – Stephanplatz.. Yup, tujuan pertama kali adalah Stephanplatz, dan kebetulan AirBnB yang kita pilih berlokasi disitu.

Processed with VSCO

@back of the Stephansdom

Sebelumnya kami menitipkan koper kami di tempat penitipan koper di Wien Mitte Station.. Lokasi nya cukup “ngumpet” hingga bikin kami mondar-mandir, sampai akhirnya kami melihat ada sebuah pintu kecil yang mengarah ke lorong tempat penitipan koper. Ruangan nya tidak terlalu besar, dan kalau sudah siang sedikit bakalan penuh. Untung nya kami sampai di pagi hari, jadi masih banyak loker yang kosong. Harga sewa loker nya EUR 3.5 / loker / 6 jam, bisa diisi dengan 1 koper ukuran L + 1 koper cabin size + 1 backpack Anello saya.

Selesai urusan penitipan koper, kami keliling Stephanplatz dan mengunjungi St. Stephen’s Cathedral dan Katholische Kirche Domherrenhof. Capek berkeliling, saya mau mencicipi Sacher Torte nya Vienna yang terkenal itu di Aida Cafe.. Kami memesan Sacher Torte dan Hot Chocolate.. Total EUR 8 / porsi..

Processed with VSCO with  preset

Sacher Torte and Hot Chocolate – Aida Cafe, Vienna

Rasa Sacher Torte ini klasiiikkk sekaliii.. perpaduan choco and cake nya nge blend bangettt di mulut.. tapi jangan membayangkan kalau Sacher Torte ini adalah cake yang moist yaaa.. Cake nya cenderung bertekstur kasar.. Namun selai apricot sebagai filling nya memberikan kesegaran dan cita rasa yang unik.. Kalau sudah di Vienna, jangan sampai gak nyobain si Sacher Torte ini yaahh.. 🙂

Selesai menikmati Sacher Torte, kami menuju ke penginapan kami di daerah Opera, dengan rate EUR 45.10/malam.. Lokasi nya kami pilih yang strategis dan dekat dengan Stephanplatz, jadi bisa sekalian strolling around historic city centre nya Vienna, seperti Rathaus, Burgtheater, Votivkirche, Hofburg Palace, Vienna National Museum (Maria-Theresien Platz).

2018_0521_15113100

Brandstätte at the Stephansdom

Selesai c/i, kami istirahat sebentar, sebelum melanjutkan perjalanan untuk cari makan siang… Laperrr euy! Daaan pastinya MANDI! karena belum sempet mandi sehari semaleman.. hehehhee.. Selesai bersiap, kita mau lunch di Ribs of Vienna, resto yang punya andalan Pork Ribs sepanjang 1 meter.. Total makan+minum disitu habis EUR 25 for 2 persons..

2018_0521_19530400

Udah mandi, udah siap jalan-jalan lagi.. 😛

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan ke Rathaus (Town Hall) dan Hofburg Complex. Lokasi nya cukup berdekatan, jalan kaki ga berasa deh, tau-tau dah pegel ajaaa.. Cuaca dan suhu di Vienna lagi bersahabat sekali buat orang tropis macam saya.. Gak terlalu panas, tapi gak terlalu dingin.. Kalau mau main ke Vienna, pilihlah di bulan Mei.. dijamin enaak cuacanya..

2018_0521_20572200.jpg

@Rathauspark Vienna – banyak pohon mawar disiniii.. iyaa.. pohon.. dan bunga nya..

Processed with VSCO

@Alte Burg Place Hofburg

2018_0521_20165500

Hofburg Complex

Puas berkeliling dan udah capek, saya butuh rebahan bangetttt deh buat nyelonjorin kaki yang udah kebasss banget.. Jadilah kami balik ke penginapan, sambil nunggu janjian dinner alias buka puasa sama temen nya si kangmas.. Kebetulan kami pergi di bulan puasa, dan jam buka puasa di Vienna itu sekitar jam 9 malam.. Jadi lumayan lah masih ada waktu buat tiduuur..

Kangmas janjian ketemuan sama temennya di WienerWald Resto, tentu saja sajian khas nya yaitu Wiener Schnitzel.. Tapi kata temen nya si kangmas, rasa Wiener Schnitzel itu std bangettt, cuma ayam goreng tepung dikasih kentang goreng sama saos mayo.. udah gitu doang.. Jadilah kita direkomendasiin menu yang lain.. Gagal deh nyobain si Wiener Schnitzel khas nya Vienna.. hehehe.. Jadinya saya pesen soup sama steak aja (lupa namanya apa, yang pasti ribet lah..)

Processed with VSCO

Wienerwald Restaurant

Selesai makan, sempet jalan-jalan sebentar menikmati malam nya kota Vienna.. Tapi ga lama sih, soalnya besok pagi-pagi kami mesti check out untuk melanjutkan perjalanan ke SALZBURG, yeaaaaayyy!!

2018_0522_03154700

Udah jauh-jauh ke Vienna, masih ada aja temen nya si kangmas.. 😛

Kenyang makan, kami berkeliling sebentar menuju gedung Opera sekedar untuk berfoto aja.. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, kami harus kembali ke penginapan untuk istirahat, karena besok kereta kami pagi banget utk ke Salzburg..

Processed with VSCO

Well, thank you Vienna.. See you.. walau cuma sebentar tetapi sudah cukup memberikan gambaran seperti apa ibukota negara Austria ini.. Semoga bisa diberi kesempatan lagi untuk kembali ke kota klasik ini..

Cheers,

Regina Desi ❤

Advertisements

Read Full Post »

Kali ini saya akan berbagi pengalaman merasakan bertransformasi menjadi Maiko.

Apa itu Maiko? Maiko adalah calon geiko atau seniman perempuan yang mengabdikan hidupnya untuk kebudayaan Jepang dengan hidup melajang. Adapun Geiko adalah sebutan khas untuk para perempuan pengabdi kebudayaan asal Kyoto. Di luar Kyoto, mereka disebut dengan Geisha.

Setelah googling kesana kemari untuk mencari harga yang cocok di kantong dengan hasil memuaskan, akhirnya ketemulah sama Maiko Henshin Shiki Studio ini. Saya sempat lihat Dian Sastro, Andien, BCL foto disini dan hasilnya bagus baguuuss.. Tapi ada harga ada rupa yaa.. Harga aslinyaa muaahaaall bangeett.. Tapi pucuk dicinta ulam tiba, ternyata studio ini lagi bikin program campaign dalam rangka opening new shop mereka.. promo nya discount 50%! Wow, jadi berapa yen? nih, langsung aja mampir ke web mereka –> http://www.maiko-henshin.com

Begitu menginjakkan kaki di Kyoto, saya merasakan Japanese culture yang sangat kental.. Apalagi di daerah Ninenzaka, saya melihat banyak orang berseliweran memakai Kimono / Yukata. Tak sulit untuk menemukan Maiko Henshin Studio. Lokasi studio ini mudah ditemukan, di daerah Ninenzaka, dekat Kiyomizudera Temple.

Sebelumnya saya sudah melakukan reservasi via email. Dan begitu saya datang, saya langsung dilayani dan tidak perlu mengantri. Receptionist yang membantu kami bisa berbahasa english, namun tidak begitu lancar.. kebanyakan akhirnya pakai bahasa tubuh.. ahahha.. that’s why jadinya kita lama banget di meja receptionist.. Karena banyak sekali options yang harus kita pilih di awal, seperti pose apa yang kita inginkan, berapa kali pose, menggunakan full wig atau half wig, paket studio saja atau strolling plan, dll.

Karena saya berdua dengan kangmas, tadinya mau ambil Studio Plan untuk saya, dan Samurai Plan untuk kangmas; tapi ternyata mereka memiliki hidden plan ketika kami tiba disana. Mereka menawarkan kami Couple Plan, yang kalau dihitung ternyata lebih murah. Okelah, kita ambil Couple Plan, dapat 2 photo couple + 1 samurai + 1 maiko, jadi total dapat 4 pose; nah habis itu saya nambah lagi 2 pose @1,000 yen. Mumpung sudah disini, jadi tutup mata aja deh sama harganya.. Belum tentu dua kali lagi difoto beginian.. hehehe..

Jadi berikut paket yang saya ambil : Couple Plan (4 photos) + 2 additional photos for Maiko + Half Wig + tabi (kaus kaki) dan sudah mendapatkan soft file dalam bentuk CD-R, dan juga photo book. CD-R dan photo book nya langsung jadi dan bisa diambil begitu kita selesai melakukan pembayaran. Total payment saya 17,800 yen.

Begitu sudah deal, receptionist akan memberikan kita kunci locker dengan gantungan (biar ga ilang) dan juga keranjang yang berisi tabi, dan kimono tipis berwarna putih untuk dalaman. Kita dipersilahkan untuk melepaskan sepatu, dan berganti pakaian. Untuk make up dan hair do Maiko membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam. Untuk Samurai hanya perlu waktu 15 menit.. Ironis yaa perbedaan nyaa.. hahaha.. Jadi, kangmas boleh muter muter dulu 45 menit, nanti baru balik lagi ke Studio.

Selesai berganti pakaian, saya diantar menuju ruang rias. Nah, disini saya dirias pakai bedak tebal putih, blush pink, bibir merah tipis merona, eyeliner merah, dan alis coklat kemerahan. Selesai rias wajah, saya diantar menuju wig room. Saya mencoba wig sampai menemukan yang cocok dengan kontur kepala saya. Selesai pasang wig, saya diantar menuju ruang memilih Kimono. Ada banyak pilihan, mejikuhibiniu.. tapi saya udah ngincer Kimono ini, terinspirasi dari Andien, dan memang Kimono ini yang motifnya paling cantik menurut saya, warna nya pink pula. Kebetulan Kimono yang saya mau lagi dipakai orang.. Jadi saya mesti nunggu sekitar 10 menit.. It’s okay, saya tunggu daripada nyesel ga pake ini Kimono.. hahahaa.. Dan ternyata ga sampai 5 menit, itu Kimono udah ada.. akhirnya saya diantar menuju ke ruang untuk dipakaikan Kimono beserta assesoris nya.

Ternyata Kimono itu beraat banget yaaa.. Dan tight bangettt.. kenceeenggg bangetttt ngiketnya.. makanya mereka tidak memperbolehkan ibu hamil untuk berfoto pakai Kimono gini.. kebayang kan tuh perut nya dibebet sampe kenceeng.. duuh, saya aja sampe pengaap megap megap kayak mau kehabisan nafas.. Huhhu..

Habis pakai Kimono selesai, saya pilih assesoris rambut. Dan voila, saya sudah berubah menjadi Maiko.. Hehe.. Gimana? Cocok ga jadi Maiko?

13495324_10154266540564137_6048758939691661337_n

My transformation as Maiko

Setelah dandanan lengkap macam begini, saya diantar menuju ke studio foto yang ada di lantai bawah. Dan saya ketemu si kangmas yang takjub ngeliat muka putih semua kayak dipakein tepung.. haaahahaa.. but hello, it’s an art! Kangmas sih takutnya saya disangka Maiko beneran… hahaahhaa… Ternyata untuk si Samurai, cuma dipakein baju Samurai gitu aja, ga dibedakin, hahaha padahal kan mau difoto.. ya udah saya bedakin si kangmas dikit deh biar ga oily tuh muka..

Nah kita dikasih free time untuk foto-foto pakai kamera sendiri selama 10 menit. Langsung lah saya take pose dan kangmas jeprat-jepret pake kamera nya. 10 menit berlalu, tapi kita kok belum dipanggil untuk masuk ke dalam lagi yaa.. kayaknya petugasnya kelupaan.. hahahha.. hampir 20 menit kita dibiarin keliaran di luar foto-foto. Untungnya cuaca saat itu bagus, ga panas, tapi ga hujan juga.. Dingin sih, cuma itu Kimono tebel banget jadi bikin anget..

Akhirnya kita dijemput untuk dipanggil masuk ke dalam studio lagi, dan disana udah ada photographer nya yang siap buat taking photos. Photographer nya perempuan.. Ramah dan kooperatif sekali. Sesi foto berjalan menyenangkan.. 😀

Selesai difoto, saya kembali diantar menuju changing room, untuk melepas assesoris rambut, kimono, dan wig. Kemudian saya dibantu untuk membersihkan bedak putih di bagian punggung dan leher belakang saya. Untuk membersihkan make up, mereka sudah menyediakan peralatan yang lengkap, mulai dari kapas, milk cleanser, face tonic, bahkan shampo dan juga hair dryer.

Fiuuhh akhirnya selesai juga beberes nya, dan saya kembali diantar menuju ke tempat receptionist untuk melakukan pembayaran dan juga mengambil hasil foto. Dan hasilnya bagus sekali.. Tidak mengecewakan.. You get what you paid for.. Penasaran sama hasilnya.. Nih silahkan dilihat sendiri yaa..

10441169_10154007928329137_2338552959034606136_n

Love the details

 

1923844_10154007930529137_4995123883893181181_n

Greetings from Kyoto

12832460_10154007930824137_5455629298137157087_n

Samurai & Maiko

Well, that’s all my story.. Kalau ada yang berminat foto ala Samurai dan Maiko seperti kami, langsung aja dateng ke Maiko Henshin Shiki Studio, Kyoto.

Sayonaraaa..

Cheers,

❤ regina desi

Read Full Post »

Day 1/2 : Jakarta – Singapore – Hong Kong – Macao

Selalu berawal dari promo tiket pesawat! Karena budget jalan-jalan yang mepet, kami pun selalu ‘hunting’ tiket-tiket promo. Kalau ada tiket yang promo nya kebangetan murah, bisa saja spontan kami beli, bisa berangkat atau tidak nya, itu urusan belakangan.. heheheee.. Kali ini promo tiket murah meriah ke Hongkong dipersembahkan oleh Tiger Airways, maskapai milik Singapura. Dan kadang tiket promo begini biasa nya waktu nya mepet-mepet sama departure date. Kenapa pilih Hongkong? Ya karena ga perlu pakai visa.. Walaupun ada tiket murmer tujuan Eropa, tapi mepet departure date nya yaaa dadah babaayyy! Negara kita belum secanggih Malaysia or Singapore yang bisa bebas masuk Schengen countries tanpa perlu pakai visa! *hiksss *sedihhhh!

Dengan mengantongi tiket seharga Rp 2.4jt /pp/orang, sudah termasuk bagasi 15kg (berangkat) & 20kg (pulang), terbanglah saya dan kangmas ke Hongkong (HK). Naaah, karena ini adalah low cost airlines, jadilah kita mesti transit dulu di Changi.. Tapi kita udah pilih jadwal yang paling oke, berangkat dari Jakarta last flight, dan berangkat lagi dari Singapore first flight.

Berangkat ke Bandara naik Uber *tentunya, yang tarif nya lebih murah daripada si burung biru or si cepat.. 😛 . Nah, kita memang sengaja berangkat lebih pagian untuk check-in duluan supaya bisa dapet kursi sebelahan (lumayan banget loh menghemat biaya pilih kursi!). Misi pun berhasil, begitu counter check-in dibuka, kita kebagian urutan pertama, dan dapet kursi sebelahan.. Karena light travelling, koper yang checked-in pun cuma sekitar 8kg aja.. Memang sih koper cabin size, tapi karena bawa tripod, jadi mesti masuk bagasi! Tiger termasuk maskapai yang on-time! Pukul 22.00 take off lah kita dari Jakarta menuju Singapore..

Bye Jakarta!

Bye Jakarta!

Setiba nya di Changi Airport, saya langsung menuju counternya Bee Cheng Hiang yang jual dendeng pork endeusss.. harganya menurut saya sih mahal, dua lembar dendeng nya seharga 110rb rupiah! Ya tapi kan ga ada pilihan yaaa, secara saya udah ngebayangin makan dendeng ini pake nasi putih plus sambel botol! Nasi putih nya saya bungkus dari rumah, sambel botol nya pun pake acara tragedi segala supaya bisa nyampe di Singapore!

Bee Cheng Hiang

Bee Cheng Hiang

Nikmatnya jadi turis backpacker-an :D

Nikmatnya jadi turis backpacker-an 😀

Bermalam di Changi Airport masih bisa dibilang cukup nyaman lah.. AC nya dingin, ada kursi pijet kaki, ada resto 24jam, good wifi connection (untuk dapetin passwordnya, kita mesti scan paspor kita), ada kursi-kursi panjang buat tiduran *tapi malah bikin sakit punggung sih menurut saya.. Singkat cerita, saya ga bisa tidur dengan nyaman karena AC nya yang terlampau dingggiiiinnnnn dan kursi yang bikin sakit punggung T__________T

Untungnya malam cepat berlalu dan boarding time tiba juga.. Segera aja deh masuk ke pesawat biar bisa tiduran.. Lebih nyaman tidur di pesawat *beneran! Singapore – Hongkong memakan waktu kurang lebih 3,5 jam. Cukup deh untuk tiduran..Karena capek banget, saya pulesss banget tidurnya dan ga berasa si pilot bilang kita udah mau mendarat..

Itinerary berikutnya setiba di Hongkong adalah menuju Macau. Nah, jadi untuk para my readers tercinta yang mau langsung menuju Macau, ga usah clearance immigration yaaa, langsung aja beli tiket Ferry (Turbo Jet), dan nanti akan dikasih arrival card di Macau. Untuk bagasi juga ga perlu khawatir karena akan diurusin sekalian sama si Turbo Jet. Untuk harga tiket Turbo Jet nya itu HKD 266/person for adult (as per Oct 2015). Sedihnya sih karena seolah-olah masuk dari pelabuhan, jadi paspor kita ga di stamp apa-apa.. hiks.. jadi berkurang deh koleksi stamp nya! Oiya, saran saya jangan jauh-jauh dari boarding gate nya yaaa.. karena petugas Turbo Jet ini cuma teriak-teriak pake mulut, ga pake TOA ataupun pengeras suara.. Banyak kejadian penumpang ketinggalan kapal!

At HKIA

At HKIA and the ferry (Turbo Jet) tickets

Sebelum masuk ke kapal :D

Sebelum masuk ke kapal 😀

Perjalanan Hongkong – Macau kurang lebih 1 jam.. Agenda berikutnya ya tidur lagi.. Koneksi wifi di dalem kapal juga kacau balau, jadi yo wis pasrah aja ga bisa update sana-sini.. 😛

Di dalam kapal Ferry, sinyal wifi parah pisan!

Di dalam kapal Ferry, sinyal wifi parah pisan!

Di Macau, kita menginap di Grand Lapa Hotel, hotel bintang lima yang harga nya murah meriah deh *karena dapet diskon, yes!! rejeki anak sholeha! Grand Lapa Hotel ini menyediakan shuttle dari Ferry Terminal ke Hotel.. Lumayan deh gratis, ga perlu keluar ongkos taksi.. Begitu keluar Ferry Terminal di Macau, dueeengg banyak cewe-cewe cantik pake baju seksi bawa plang-plang nama-nama Hotel.. Abaikan langsung nyari shuttle nya Grand Lapa, ngeliat jam, harusnya si shuttle udah beredar nih jam segini.. Benar sajaa, dari kejauhan keliatan tuh si shuttle Grand Lapa, dan saya pun teriak-teriak manggil si shuttle sambil gotong-gotong koper.. Oiyaaa, ada tragedi si koper cabin size yang masuk bagasi.. tongkat nya patah, dan cover nya kelepas *untung masih ga ilang tuh cover… damn! semoga orang yang ngebikin koper saya rusak diampuni dosanya! Amin!

Ternyataaaa, deket banget dong tuh Grand Lapa Hotel sama Ferry Terminal, lokasi nya persis di samping nya The Sands! Dari luar, hotel ini terlihat sudah tua dan ga se-fantastis hotel di sekitarnya.. Tapi  begitu masuk, wow, kesan classic yet vintage terasa banget.. Normal rate di hotel ini seharga 3,600 MOP, atau sekitar 6 juta rupiah.. ahahhahhaaa.. tapi anak backpacker-an mah ga bakal milih hotel yang harganya 6 juta / malam kecuali DAPET DISKON! *thanks to booking.com

Grand Lapa Hotel ***** - Macao

Grand Lapa Hotel ***** – Macao

Hotelnya thumbs upppp deh! Kamarnya super clean and spacey! Kasur nya empuuuk bangett.. bantal nya bulu angsa! The excellence of sleep quality achieved! Highly recommended compared to its price within the others hotel around Macao!

Itinerary kami selama di Macao yaitu ke Senado Square, Ruins of St. Paul (biasa ajaa..), Taipa Village, Koi Kei Bakery (enak-enak kuih nya!), The Venetian Macao, O Santos Portuguese Restaurant (too bad it was closed!), dan Fisherman’s Wharf (bagus buat foto-foto, Rome ala-ala!)

Di salah satu sudut di Senado Square

Di salah satu sudut di Senado Square

Untuk menuju Senado Square, saya naik bis. Untuk teman-teman yang belum punya uang pecahan, mending jangan naik bis deh, rugiii, karena pak supir ga bakalan menyediakan uang kembalian! Untung saya punya pecahan 10 dollar, jadi ga rugi-rugi amat deh! Kalau teman-teman ada yang mau pergi ke Hongkong / Macao, dan mau backpackeran naik bis, dan mau tuker uang-uang koin/receh HKD / MOP, bisa hubungi line saya ya di desialto (kurs menyesuaikan)Di Macao ga perlu repot-repot tukerin uang HKD ke MOP (Macao Pataca), karena di Macao terima HKD, tapi di Hongkong ga ada yang mau terima MOP! Intinya 1 HKD = 1 MOP.

Dari Senado Square, ikutin jalan aja menuju ke arah bukit St. Paul’s Church dan bertemulah kita sama icon nya kota Macau yaitu reruntuhan gereja St. Paul ini..

Ruins of St. Paul's Church

Ruins of St. Paul’s Church

Sepanjang jalan menuju bukit ini, di kiri kanan nya ramai oleh toko-toko yang menjual dendeng pork! Awas jangan sampai salah cicip yaaaa.. non-halal! 😀 , terus banyak banget tuh si Koi Kei Pastellaria.. Enaknya bebas icip-icip karena disediain teter unlimited.. Saya aja bisa sampe kekenyangan sendiri nyobain tester doang! Almond cookies nya endeuuss deh.. ada aroma rhum nya gitu.. tapi ada lagi nut cookies nya yang ga kalah endeusss.. kalau nougat candies nya mah biasa aja.. enakan enting-enting Jawa! Harganya jangan ditanya.. mahaaal sodara-sodara.. satu kotak almond cookies harganya 80 MOP / sekitar 160rb! Lagipula dus nya gede-gede, susah bawa nya, koper terbatas.. *alasan… 😀 😀 Puas-puasin deh nyobain testeran nya aja sampe kenyang *backpacker mode on!

Koi Kei yang bertaburan di sepanjang jalan

Koi Kei Pastelaria yang bertaburan di sepanjang jalan

Kotak nya gede banget kaaan.. susyaah bawa nyaaa... *alasan

Kotak nya gede banget kaaan.. susyaah bawa nyaaa… *alasan

Alhasil kita cuma nyobain Egg Tart by Koi Kei ini.. Harganya 9 MOP / pcs atau sekitar 18rb.. *mahal! Dan rasanyaaaa enaaakkk! Crunchy di luar, ada lapisan caramel nya, trus di dalem nya ada semacam egg custard gitu.. dan yang pasti karena disajikan hangat jadi menambah kelezatan si egg tart ini! Nyuuumm, jadi penasaran pengen nyobain egg tart nya Lord Stow yang terkenal itu!

Enjoying our first Egg Tart by Koi Kei

Enjoying our first Egg Tart by Koi Kei

Oiya, disini juga ada Naraya lohhh, itu loh toko pernak-pernik dari cotton fabrics yang bisa disulap jadi beragam tas, handkerchief, mirror, etc.. Dan disini saya nemuin mirror yang cantiiikk banget.. lumayan, ga usah jauh-jauh ke Bangkok bisa beli.. 😀

Dari Senado Square kami melanjutkan perjalanan ke Taipa. Awalnya kita mau dinner di O Santos – Portuguese Resto, tapi sayang nya begitu kita sampe, restoran nya tutup.. hiksss.. akhirnya sambil kelaperan muter-muter lagi deh sekitar situ, tapi ga berhasil menemukan makanan yang murmer dan ramah di kantong.. T___________T

Dari O Santos di Rue Avenida, kita jalan kaki menuju The Venetian Macao.. Nah jalan menuju The Venetian ini pedestrian-friendly deh, karena disedian travellator sampai ke ujung tangga penyeberangan.. Nah di atas tangga penyeberangan ini view nya cantik deh, lampu-lampu gemerlapan dari gedung – gedung di sekitarnya..

Around Taipa Village to The Venetian Macao

Around Taipa Village to The Venetian Macao

Kurang lebih 20 menit berjalan kaki, tibalah kami di The Venetian Macao. Tata cahaya di The Venetian ini memang patut diacungi jempol.. Padahal di luar sudah gelap gulita, eh begitu masuk ke dalam sini, berasa terang benderang plus awan masih terlihat.. 😀

Suasana di The Venetian ini memang dirancang ala-ala kota Venice, lengkap dengan gondola nya. Silahkan membayar 180 MOP untuk menikmati berkeliling dengan gondola. Karena turis backpackeran, jadi nya saya foto-foto aja deh disini..

The Venetian Macao

The Venetian Macao

Harga makanan disini jangan ditanya.. Mahal deh pokoknya! Untuk sepiring pasta aja, bisa 150 MOP! Glegggggg! Karena perut udah kelaperan *akibat gagal nyobain O Santos, akhirnya kami melihat satu resto yang malesin banget sih.. but hell yeaah, cuma si McD ini yang harga nya masih “cukup” bersahabat di kantong. Walaupun hanya untuk seonggok burger, soft drink and fries harga na 50 MOP alias IDR 100.000! *Jakarta, I miss you!

Mana lagi.. selain di McD... *sambil nyanyi!

Mana lagi.. selain di McD… *sambil nyanyi!

Selesai makan malam, kaki udah pegel, badan udah lelah, akhirnya kita mutusin untuk balik ke Hotel dan istirahat. Tadi nya kepengen naik shuttle bus The Venetian ke The Sands, tapi ngeliat antrian yang kaya antri sembako jadi mengurungkan niat. Akhirnya kita pulang naik bis.. 2x naik turun bis *naik bis di Macao gampang kok, ga ribet! 😀

——–> to be continued : Macao – Hongkong / Day 3

Cheers,

\dsj ❤ ❤

Read Full Post »